Tips Teknik Penulisan Karya Ilmiah dengan Metode Mengikat Makna |
"Anda harus menulis dan menyingkirkan sekian banyak materi sampah sebelum Anda akhirnya merasakan suasana yang nyaman." Ray Bradbury Ketika sesi tanya-jawab di acara Seminar Nasional "Menjadi Kaya dengan Menulis" berlangsung, ada dua pertanyaan menarik yang ditujukan kepada saya. Gara-gara saya dipanelkan dengan pembicara lain yang membahas bagaimana menulis karya ilmiah, materi yang saya presentasikan menjadi seperti bertentangan dengan materi yang disampaikan oleh pembicara lain tersebut. Dikarenakan tampak bertentangan itulah, akhirnya, muncul dua pertanyaan menarik tersebut. Pertanyaan pertama terkait dengan judul tulisan saya ini. "Apakah kiat-kiat menulis yang saya tawarkan dapat digunakan untuk menulis karya ilmiah?" Saya memahami sekali pertanyaan ini karena kiat-kiat saya seperti tak memiliki kerangka disiplin yang jelas, sementara menulis karya ilmiah perlu kerangka formal yang benar-benar sangat jelas. Pertanyaan kedua masih nyambung dengan pertanyaan pertama, meski tak langsung, yaitu tentang terkesannya materi yang saya sampaikan bertentangan dengan materi pembicara kedua yang sepanel dengan saya. Saya menganjurkan menulis bebas, sementara pembicara kedua—karena menjelaskan bagaimana menulis karya ilmiah—sebaliknya, yaitu menganjurkan menulis karya ilmiah dengan beberapa aturan yang sudah disepakati oleh kalangan akademisi. Apa Sih Menulis Itu? Saya menegaskan bahwa materi yang saya sampaikan tidak bertentangan dengan materi yang disampaikan oleh pembicara kedua. Ketika ada dua orang sedang menjalankan kegiatan menulis—yang satu menulis karya ilmiah, sementara yang satunya menulis bukan karya ilmiah—kondisinya sama. Artinya, kedua orang itu sama-sama menggunakan alat-alat tulis yang tidak berbeda, seperti komputer (laptop), mesin ketik, atau alat-alat tulis lain. Kemudian, pada intinya, menulis itu—sekali lagi apa pun jenis tulisan yang ditulis seseorang—adalah kegiatan merangkai huruf menjadi kata, kalimat, paragraf yang terstruktur dan punya makna. Kiat-kiat yang saya susun dan tawarkan kepada publik berangkat dari sini. Bahkan ketika saya menawarkan konsep "brain-based writing", meskipun dua orang yang sedang menulis itu menjalankan kegiatan menulis dengan materi yang ditulisnya berbeda, saya tetap menganggap bahwa kedua orang itu tetap menggunakan komponen-komponen otak yang sama saat menulis. Benar bahwa tulisan yang dihasilkan itu punya kadar yang berbeda. Namun, sekali lagi, ketika keduanya sedang menjalani kegiatan menulis, ya kondisi dirinya sama, tidak berbeda. Nah, buku-buku saya yang membicarakan kiat-kiat menulis, sesungguhnya menampung semacam riset kecil-kecilan saya terkait dengan hal-hal mendasar ihwal menulis. Saya menemukan bahwa ada dua ruang untuk menulis. Dua ruang itu bernama "ruang privat" dan "ruang publik". "Ruang privat" sifatnya sangat pribadi dan hanya individu yang menulis itulah yang eksis, sementara "ruang publik" adalah ruang di mana individu itu harus mengikuti aturan pihak lain ketika menulis. "Ruang privat" ini sifatnya subjektif, dan "ruang publik" itu objektif. Dua ruang itu sangat logis. Ketika saya belum tahu dan belum membedakan secara sangat tegas kedua ruang untuk menulis itu, saya mencampur dua ruang tersebut. Efeknya luar biasa. Saya tidak nyaman dalam menulis. Kadang, bahkan, saya tersiksa ketika menulis. Yang membuat saya frustrasi adalah saya kemudian seperti terbebani ketika menulis karena dua ruang itu saya campur. "Berat sekali ya menulis itu?" Demikianlah. Hal ini dikarenakan saya tidak dapat bebas menulis dan senantiasa cemas apakah tulisan saya sudah objektif (memenuhi kaidah) atau belum. Ternyata, setelah saya mendengar riset Roger Sperry yang membuktikan manusia punya dua belahan otak—kiri dan kanan—dan masing-masing belahan itu berfungsi secara sangat berbeda, dua ruang yang saya ciptakan itu ternyata sesuai dengan masing-masing fungsi belahan otak. Otak kiri, yang suka mengoreksi, berpikir secara rasional, tertib, dan satu-satu. Otak kanan, sebaliknya, suka dengan kebebasan, berpikir menyeluruh, dan loncat-loncat. Alangkah klopnya jika, pada saat awal menulis, kita menggunakan otak kanan dan mempersepsi sedang menulis di "ruang privat" di mana subjektivitas kita sangat menonjol. Jadi, ketika kita mengawali menulis, kita bebaskan lebih dulu diri kita dari jeratan aturan menulis yang telah ada di benak kita. Dalam menjalani kegiatan menulis, kita benar-benar melibatkan keinginan, harapan, dan kemampuan kita. Kegiatan menulis ini tidak datang dari luar, tetapi dari dalam. Jadi, ketika kita menulis di "ruang privat", kita mengendalikan semua hal yang ingin kita tulis dan kita menggunakan cara-cara yang memang sesuai dengan kemampuan kita. Saya yakin, jika kita dapat mengawali menulis seperti ini, kita tentu bisa menikmati kegiatan menulis. Sekali lagi, di "ruang privat", kita bebas menulis apa saja. Setelah menghasilkan tulisan, tulisan yang sudah jadi itu pun tidak buru-buru kita koreksi. Karena, ingat, menulis di "ruang privat" adalah menulis dengan otak kanan yang bebas, yang menyeluruh. Kita menumpahkan segalanya lebih dulu. Kita mengalirkan apa pun yang bisa kita alirkan. Kita harus benar-benar merasa plong atau lega ketika selesai mengalirkan semua yang ingin kita tulis. Inilah kegiatan menulis di "ruang privat". Dan itu bisa dijalankan siapa saja dan bisa untuk menulis materi apa saja termasuk materi yang berkadar karya ilmiah. Memang, menulis di "ruang privat" baru separo jalan. Sifatnya pun masih subjektif meski, kelebihannya, bahan yang ditulis benar-benar milik diri pribadi yang menulis. Masih ada separo jalan lagi, yaitu menulis di "ruang publik" atau menulis secara objektif, menulis yang disesuaikan dengan aturan yang diciptakan oleh orang atau lembaga lain. Namun, saya yakin, menulis di "ruang publik" akan jauh lebih mudah dan ringan jika diawali dengan menulis di "ruang privat". "Mengikat Makna" untuk Menulis Karya Ilmiah Apa yang saya jelaskan di atas merupakan bagian kecil dari kiat-kiat yang saya himpun di dalam konsep menulis yang saya namakan dengan "mengikat makna". Hukum utama "mengikat makna" adalah tidak memisahkan kegiatan membaca dengan menulis. Anda akan menjadi mudah dan ringan dalam menulis—apa pun yang ingin Anda tulis, termasuk menulis karya ilmiah—apabila memadukan kegiatan membaca dan menulis. Menulis memerlukan membaca dan membaca memerlukan menulis. Saya kira ini pasti sesuai dengan aturan objektif di dalam menulis karya ilmiah. "Mengikat makna", jika diikuti dengan benar, akan membuat seseorang yang sedang menulis karya ilmiah akan mampu menulis karya ilmiahnya dengan bahasa yang mengalir, tidak kaku, dan enak dibaca. Sebagaimana pernah saya ulas di buku saya, Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah (MLC, 2005), ketika saya mendefinisikan buku-buku yang mengalir, yang saya rujuk, meski tak 100% buku ilmiah, adalah buku-buku yang ditulis dengan "semangat" ilmiah. Artinya, buku itu ditulis dengan bertanggung jawab dan referensinya sangat jelas. Menurut pengamatan saya, buku-buku yang dikategorikan buku ilmiah, menjadi sangat kaku, kering, dan kadang membosankan karena si penulis karya ilmiah itu tidak memiliki keterampilan menulis (jarang berlatih menulis bebas) dan miskin dalam kosakata (jarang membaca buku yang beragam). Saya yakin, jika si penulis karya ilmiah itu rajin berlatih menulis bebas, lantas menguasai persoalan yang dikajinya, dan kaya akan kata-kata, pastilah karya ilmiahnya bisa mengalir, enak dibaca, dan tidak membosankan. Saya menciptakan konsep-konsep dan kiat-kiat membaca dan menulis dengan tujuan agar sebuah buku—termasuk buku yang masuk kategori karya ilmiah atau buku pelajaran—dapat disajikan dalam bahasa yang mengalir dan enak dibaca. Jadi, "mengikat makna" ingin membantu siapa saja yang berniat menulis karya ilmiah agar karyanya itu berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Karya ilmiahnya menjadi karya yang menerobos, yang mengasyikkan jika dibaca, dan memberikan banyak sekali manfaat. Sayang kan jika kita sudah memiliki potensi untuk membuat karya ilmiah atau sudah menuntut ilmu hingga jenjang yang sangat tinggi, akhirnya, gara-gara terperangkap oleh aturan objektif menulis karya ilmiah yang sudah digariskan, kita (orang-orang yang sangat berpotensi) kemudian terkendala dalam membuat buku atau malah menjadi malas untuk menulis hal-hal yang sederhana. Nah, sebagai contoh kecil, cobalah ikuti saja saran saya dengan, pertama-tama, membuat dua ruang untuk menulis di dalam benak kita sebagaimana saya jelaskan di atas. Menulislah lebih dahulu secara sangat bebas di "ruang privat". Biasakan untuk "membuang" apa saja setiap hari, lewat menulis bebas, di "ruang privat". Hasil tulisan yang lahir di "ruang privat" ak usah buru-buru dikoreksi, yang penting buang saja—apa pun materi itu termasuk materi-materi yang berkategori ilmiah yang belum teruji benar. Kumpulkan semua bahan tulisan yang masih kasar itu dengan telaten hari demi hari, mingu demi minggu, bulan demi bulan. Menulislah dengan bebas secara mencicil. Menulis tidak bisa sekali jadi. Menulis untuk menghasilkan tulisan yang baik adalah dengan menulis mencicil. Nanti, kalau sudah cukup banyak, mulailah ditata dan masuklah ke "ruang publik". Baca kembali tulisan-tulisan yang masih berantakan itu dan kelompokkan. Gunakan otak kiri untuk menata dan mengoreksinya. Baca buku-buku referensi untuk membuat tulisan tersebut menjadi objektif. Bandingkan dengan tulisan atau buku-buku lain. Saya yakin, jika kegiatan menulis sebagaimana yang saya tawarkan dapat dijalankan secara perlahan dan sedikit demi sedikit, tentulah menulis itu dapat dinikmati dan tidak membebani. Itulah tujuan "mengikat makna" dan kiat-kiat menulis yang saya ciptakan. Saya percaya bahwa ada materi yang termasuk karya ilmiah yang tidak bisa dijabarkan lewat kata-kata yang mengalir dan enak dibaca. Apalagi jika materi itu berisi data dengan tabel dan grafik yang banyak. Namun, sekali lagi, saya yakin bahwa semua itu bisa disiasati oleh para penulis yang memiliki keterampilan menulis dan kaya akan kata-kata. Saat ini telah banyak buku-buku yang bisa dikategorikan ilmiah tapi disajikan dengan bahasa tulis yang enak dinikmati. Buku karya Daniel Goleman, Emotional Intelligence, yang sarat dengan riset-riset ilmiah, ternyata bisa disajikan dengan gaya bercerita. Ada kemungkinan, buku Goleman ini tidak murni ilmiah, tapi masuk kategori ilmiah populer. Saya setuju saja jika buku Goleman dimasukkan dalam kategori tidak murni ilmiah, tapi semi ilmiah atau ilmiah populer. Tetapi, ayolah para sarjana dan cendekiawan Indonesia! Bergairahlah untuk menulis dan membuat buku-buku yang tidak usah ilmiah tetapi dapat dipertanggungjawabkan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.[] |
Senin, 17 Mei 2010
tips teknik penulisan karya ilmiah
makalah ekonomi
DAMPAK KRISIS EKONOMI GLOBAL TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG |
Abstract The problem of this research is about global finance crisis. The study aim at global finance crisis impact towards economy social condition and how does strategy overcome global finance crisis impact with recommendation to government provinsi and regency/city exist in provinsi Kepulauan Bangka Belitung. from watchfulness result has been got that global finance crisis influence society economy social condition at provinsi Kepulauan Bangka Belitung, this matter is caused this region economics susceptible towards external influence, because most of all mainstay commodity provinsi Kepulauan Bangka Belitung either from mining sector that is tin also estate sector that is pepper, rubber and oil palm is products eksport. something else that causes a large part society need is imported from outside provinsi causing tall cost economy. strategy that can be done to overcome global finance crisis impact decrease only to one of [the] country, time has come government revitalization commercial relation with economy strengths other like china, indians, russia, with another nations, repair asset composition so that banking and strong corporate world from all troubles, must can to be price taker world tin price, economizing towards budget, increase held back region economics, decrease only in mining sector and estate sector, to get used to democracy economy, interesting fund from centre in the form of project execution has labour intensive. Keyword : research, Journal, Impact, Crisis, Global, Social, Economy, Bangka, Belitung, BabelABSTRAK Permasalahan dalam penelitian ini adalah tentang krisis keuangan global. Kajiannya difokuskan pada dampak krisis keuangan global terhadap kondisi sosial ekonomi dan bagaimana strategi mengatasi dampak krisis keuangan global serta rekomendasi kepada pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa krisis keuangan global telah mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hal ini disebabkan Perekonomian daerah ini rentan terhadap pengaruh eksternal, karena hampir semua komoditi andalan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung baik dari sektor pertambangan yaitu timah maupun sektor perkebunan yaitu lada, karet dan kelapa sawit merupakan produk-produk eksport. Hal lain yang menyebabkan adalah sebagian besar kebutuhan masyarakat didatangkan dari luar provinsi sehingga menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak krisis keuangan global adalah mengurangi ketergantungan hanya kepada salah satu negara, sudah saatnya pemerintah merevitalisasi hubungan dagang dengan kekuatan-kekuatan ekonomi lain seperti Cina, India, Rusia, serta negara-negara lainnya, memperbaiki komposisi aset agar perbankan dan dunia usaha kuat dari segala guncangan, harus mampu menjadi price taker harga timah dunia, penghematan terhadap anggaran belanja, meningkatkan ketahananan perekonomian daerah, mengurangi ketergantungan hanya pada sektor pertambangan dan sektor perkebunan, memberdayakan ekonomi kerakyatan, menarik dana dari pusat dalam bentuk pelaksanaan proyek yang bersifat padat karya. Kata Kunci: Penelitian, Jurnal, Dampak, Krisis, Global, Sosial, Ekonomi, Bangka, Belitung, BabelPENDAHULUAN Tanggal 15 September 2008 menjadi catatan kelam sejarah perekonomian Amerika Serikat, kebangkrutan Leman Brothers yang merupakan salah satu perusahaan investasi atau bank keuangan senior dan terbesar ke 4 di Amerika serikat menjadi awal dari drama krisis keuangan di negara yang mengagung-agungkan sistem kapitalis tanpa batas. Siapa yang menyangka suatu negara yang merupakan tembok kapitalis dunia akan runtuh .Celakanya apa yang terjadi di Amerika Serikat dengan cepat menyebar dan menjalar keseluruh dunia. Hanya beberapa saat setelah informasi runtuhnya pusat keuangan dunia di Amerika, transaksi bursa saham diberbagai belahan dunia seperti Hongkong, China, Australia, Singapura, Korea Selatan, dan Negara lainnya mengalami penurunan drastis, bahkan Bursa Saham Indonesia (BEI) harus disuspend selama beberapa hari, pemerintah Indonesia pun kelihatan panik dalam menyikapi permasalahan ini, peristiwa ini menandai fase awal dirasakannya dampak krisis ekonomi global yang pada mulanya terjadinya di Amerika dirasakan oleh negara Indonesia. Dilihat dari faktor penyebabnya, krisis Ekonomi global pada saat ini berbeda dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia lebih kurang satu dasawarsa lalu, yang mana pada saat itu krisis ekonomi yang melanda Indonesia lebih disebabkan oleh ketidakmampuan Indonesia menyediakan alat pembayaran luar negeri, dan tidak kokohnya struktur perekonomian Indonesia, tetapi krisis keuangan global pada tahun 2008 ini berasal dari faktor-faktor yang terjadi di luar negeri. Tetapi kalau kita tidak hati-hati dan waspada dalam menyikapi permasalahan ini, tidak mustahil dampak krisis keuangan global pada tahun 2008 ini akan sama atau bahkan lebih buruk jika dibandingkan dengan dampak dari krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan pemasalahan sebagai berikut:
TINJAUAN PUSTAKA Jusman (2008) menyatakan bahwa seluruh dunia telah diliputi oleh krisis financial (krisis ekonomi global), seluruh negara-negara di dunia baik itu negara maju maupun negara berkembang telah terjebak dalam kesulitan yang sangat rumit. Beberapa negara yang sebelumnya menikmati kondisi ekonomi yang kuat yang mempunyai teknologi yang canggih dalam hal ilmu pengetahuan, pangan, senjata, obat-obatan terlihat hancur perekonomiannnya. Fakta dari masalah tersebut adalah bahwa ekonomi negara-negara tersebut ditopang oleh kebijakan yang sangat rapuh yang meyebabkan collaps terkena dampak krisis ekonomi global. Ichlasul Amal (2008) mengatakan bahwa Indonesia harus tetap waspada ditengah krisis ekonomi global yang berakar dari kegagalan kredit perumahan di Amerika Serikat (AS) namun mengimbas pada kondisi perekonomian dunia. Menurut Sawali Tuhusetya (2008), pemerintah tidak perlu dengan cepat mengeluarkan pernyataan agar rakyat tidak panik, yang layak dihimbau itu rakyat, pejabat, atau pemilik modal?. Dari sekitar 230 juta penduduk Indonesia, sekitar 40 juta berada dalam pengangguran dan kemiskinan. Kelompok ini tidak akan merasakan pengaruh terjadinya krisis global, yang paling merasakan adalah yang berada dalam lingkaran kekuasaan dan para pemilik modal. Krisis keuangan Amerika Serikat menyebabkan masalah global keuangan dunia, untuk mengatasi hal tersebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan sepuluh arahan: (1) semua kalangan tetap optimis, dan bersinergi menghadapi krisis keuangan, (2) tetap pertahankan nilai pertumbuhan enam persen, (3) optimalisasi APBN 2009, (4) dunia usaha khususnya sektor riil harus tetap bergerak, (5) semua pihak agar cerdas menangkap peluang, (6) galakkan kembali penggunaan produk dalam negeri, (7) tingkatkan sikap profesionalisme, (8) kerja sama dalam menghadapi masalah, (9) tidak melakukan langkah non partisan, (10) komunikasi yang bijak. Sementara itu Mudrajad Kuncoro (2008) mengatakan bahwa setidaknya ada dua langkah strategis dalam mengatasi dampak krisis keuangan global, yaitu Demand pull strategy dan supply push strategy. Demand pull strategy mencakup strategi perkuatan sisi permintaan, yang bisa dilakukan dengan perbaikan iklim bisnis, fasilitasi mendapatkan HAKI (paten), fasilitasi pemasaran domestik dan luar negeri dan menyediakan peluang pasar. Langkah strategis lainnya adalah supply push strategy yang mencakup strategy pendorong sisi penawaran, ini bisa dilakukan dengan ketersediaan bahan baku, dukungan permodalan, bantuan teknologi/mesin/alat, dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia. METODE PENELITIAN Variabel yang akan disoroti dalam penelitian ini adalah Krisis keuangan global. Kajiannya akan difokuskan pada dampak krisis keuangan global dan bagaimana strategi mengatasi dampak krisis keuangan ditinjau dari kondisi ekonomi dan sosial serta rekomendasi kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penelitian ini lebih dititikberatkan pada kajian literature-literatur pustaka yang bersifat deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka yang berhubungan dengan permasalahan yang di teliti dan studi lapangan yaitu wawancara, observasi kepada masyarakat, pelaku bisnis dan jajaran birokrasi. Definisi Operasional :
Lokasi penelitian dilaksanakan di kabupaten/kota dalam Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu pada masyarakat, pelaku-pelaku bisnis dan jajaran birokrasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara purposive random sampling yaitu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang diperkirakan bisa mewakili populasi. Penggunaan instrument / alat bantu pengumpulan data dalam penelitian ini sangat berhubungan erat dengan jenis metode yang digunakan yaitu:
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kodisi Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah provinsi ke-31 yang berdiri pada tahun 2000. Sebelum terbentuk menjadi provinsi, Kepulauan Bangka Belitung adalah daerah yang berada di bawah Provinsi Sumatera Selatan. Ada tiga kabupaten/kota yang ada pada waktu itu, yakni Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung, dan Kota Pangkalpinang. Setelah melalui perjuangan dalam beberapa fase, akhirnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berdiri melalui UU RI No. 27 tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terletak di sebelah timur Sumatera Selatan dengan posisi 1º - 3,7º lintang selatan dan 105,45º - 107º bujur timur dengan batas wilayah:
Berdasarkan UU RI No. 27 tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, luas provinsi ini adalah 16.334 KM². Posisinya yang strategis menyebabkan kepulauan ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, tidak saja dari segi pembangunan fisik, namun juga pertumbuhan kesejahteraan masyarakatnya. Pulau Bangka dan Pulau Belitung adalah daerah yang termasuk jalur orogenese, yakni lintasan timah yang terjaya di dunia, membentang dari Birma, Malaysia, Singkep, Bangka, terus ke Belitung. Seiring dengan perkembangan dinamika masyarakat, pada tahun 2003 dilakukan pemekaran wilayah dengan membentuk empat kabupaten baru, yakni Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Selatan, Bangka Barat, dan Belitung Timur Peta Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah pulau yang terbilang kecil secara populatif. Jumlah penduduk provinsi ini pada tahun 2007 menunjukkan angka 1 juta jiwa. Penduduk tersebut umumnya tersebar di dua pulau besar, yakni Pulau Bangka dan Belitung. Selebihnya tersebar di pulau-pulau kecil di sekitarnya yang mencapai 256 buah pulau. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah salah satu provinsi yang terbilang heterogen dari berbagai sektor. secara etnik, mayoritas penduduk provinsi ini adalah etnis Melayu, namun suku-suku seperti Jawa, Bugis, China, Madura, Batak, Palembang, Sunda, Padang, dan sebagainya mewarnai corak masyarakat setempat sehingga kulturnya pun cenderung terbuka dan plural. Agama mayoritas penduduk provinsi adalah Islam, dengan ragam variasi agama Kristen, Katholik, aliran Konghucu, Hindu, dan Budha. Sektor pekerjaan yang digeluti oleh masyarakat pun sangat variatif. Sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, banyak penduduk yang berprofesi sebagai penambang, baik yang penambang yang bekerja pada perusahaan skala besar dan menengah, maupun penambang tradisional yang secara teknis menggunakan peralatan sangat sederhana. Profesi lainnya yang dominan adalah petani. Sesuai dengan kondisi alam dan jenis tanaman, petani di daerah ini lebih layak disebut sebagai pekebun. Komoditas yang dihasilkan dari sektor pertanian umumnya adalah lada dan karet. Sektor perikanan dan kelautan berikutnya adalah sektor yang menjadi andalan pekerjaan masyarakat setempat. Selebihnya, masyarakat di provinsi ini bekerja pada sektor yang sangat variatif, seperti sektor perdagangan, pemerintahan, dan jasa. Kehidupan sosial masyarakat provinsi ini terbilang harmonis. Meski penduduknya sangat majemuk, namun kultur masyarakat yang open minded cenderung menciptakan situasi yang kondusif bagi akselerasi pembangunan. Dampak Krisis Keuangan Global Terhadap Sosial Ekonomi Bangka Belitung Sampai dengan bulan februari 2009, berarti sudah 5 bulan lebih krisis keuangan global melanda dunia, efek domino krisis finansial Amerika Serikat pun mulai dirasakan oleh masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dampak krisis ekonomi global yang dirasakan pemerintah dan masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung disebabkan begitu rentannya daya ketahanan ekonomi daerah ini terhadap pengaruh eksternal. Hal ini merupakan implikasi orientasi pasar komoditi yang ada, komoditi yang ada di Kepulauan Bangka Belitung hampir semuanya adalah orientasi ekspor, dipihak lain kebutuhan-kebutuhan masyarakat Bangka Belitung umumnya didatangkan dari luar provinsi yang merupakan salah satu penyebab ekonomi biaya tinggi dimana pengiriman barang-barang baik dari maupun ke luar Babel sangat ditentukan oleh baik atau tidaknya sarana pendukung dalam bidang transportasi yang tentunya sangat tergantung oleh cuaca dan keadaan alam. Krisis keuangan global juga mempengaruhi tekanan terhadap nilai mata uang dan suku bunga, disamping itu juga mempengaruhi kemampuan perbankan dalam menjaga posisi likuiditasnya atau posisi kreditnya supaya tetap lancar dan mempengaruhi kemampuan menghasilkan pendapatan serta pengembalian pinjaman nasabah, ada satu bank yang juga mempunyai cabang di Pangkalpinang yaitu Bank Century saat ini telah diambil alih oleh Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani pengambilalihan Bank Century merupakan upaya yang harus dilakukan pemerintah karena baik dai sisi struktur modal, kemampuan menjaga performa bisnis maupun manajemen, Bank Century sudah mengkhawatirkan karena akan menimbulkan risiko lebih besar jika tidak diambil alih. Antara News memberitakan banyak tambang timah Inkonstitusional (tambang rakyat) di kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menghentikan aktivitas menyusul turunnya harga biji timah dunia. hal ini berdampak pada meningkatnya angka pengangguran yang selanjutnya akan meningkatnya jumlah angka kemiskinan. Adapun penurunan harga timah dunia tersebut secara lengkap dapat dilihat dalam tabel 1 berikut ini.
Dari tabel diatas dapat dilihat pada bulan agustus 2008 harga timah mencapai US$ 22.695,00 per ton. Dengan terjadinya krisis keuangan global yang dimulai pada pertengahan september 2008 harga timah turun menjadi US$ 19.736,71 per ton, penurunan ini berlanjut pada bulan-bulan berikutnya, sehingga pada bulan desember 2008 harga timah dunia sudah menjadi US$ 13.310,00 per ton. Disamping pada sektor pertambangan, dampak krisis keuangan global juga berpengaruh terhadap masyarakat petani pada sektor perkebunan, karena umumnya ha sil perkebuanan yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah untuk tujuan eksport seperti karet, kelapa sawit dan lada. Hal ini dapat kita lihat pada tabel berikut ini: Harga Rata-Rata Komoditas Perkebunan Periode Agustus-November 2008
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dengan terjadinya krisis keuangan global, harga komoditi-komoditi sektor perkebunan mengalami penurunun tajam. Pada bulan Agustus 2008 sebelum terjadi krisis keuangan global harga karet campur cuka sebesar Rp.7.783,- per kg, namun dengan terjadinya krisis keuangan global, pada bulan nopember 2008 harga karet campur cuka turun sangat signifikan menjadi Rp.4.500,- per kg. Lada/merica putih pada bulan agustus 2008 sebesar Rp.42.428,7 per kg dan turun secara siginifikan pada bulan-bulan berikutnya setelah tejadi krisis keuangan global sehingga pada bulan nopember 2008 sudah menjadi Rp 34.333,3 per kg. Penurunan harga ini juga terjadi pada komoditi-komoditi perkebunan lainnya seperti karet tidak campur cuka dan kelapa sawit. Turunnya harga-harga komoditi andalan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut di pasaran dunia, menyebabkan nilai eksport dari komoditi tersebut juga menurun. Akibat selanjutnya adalah turunnya pendapatan masyarakat yang berimbas pada turunnya daya beli masyarakat sehingga terjadi kelesuan pada dunia perdagangan yang terjadi dalam Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, angkutan penumpang baik dalam kota maupun antar kota dalam provinsi juga relatif sepi, banyak warga masyarakat yang mengurangi untuk bepergian . Krisis keuangan global juga berpengaruh terhadap aliran dana yang masuk ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti dana dekosentrasi serta dana bantuan dari pemerintah pusat lainnya, seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Babel Syamsumi Saleh (Bangka Pos, 17/10/08). Mengecilnya jumlah bantuan tersebut tentu akan menghambat program-program strategis pemerintah daerah. Ditundanya pelaksanaan sejumlah proyek strategis di kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti water Front City di Pangkalpinang, pelabuhan internasional Jelitik di Kabupaten Bangka, pelabuhan Sadai di Bangka Selatan, terminal internasional Batubara di Bangka Barat, PLTU Mantung, etalase Kelautan di Belitung dan sejumlah proyek-proyek strategis lainnya. Akibat Meningkatnya jumlah angka pengangguran, maka secara tidak langsung krisis keuangan global juga mempunyai dampak terhadap permasalahan sosial kemasyarakatan serta dampak psikologis masyarakat seperti meningkatnya tingkat kriminalitas, jumlah pengemis dan gelandangan, meningkatnya angka putus sekolah, serta permasalahan sosial lainnya. Sebagai akumulatif permasalahan sosial dan ekonomi akan menjalar menjadi dampak politis yang dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, yang selanjutnya dapat merongrong kewibawaan pemerintah. Strategi yang harus dilakukan dalam mengatasi dampak krisis keuangan Siapapun tidak ada yang berani memastikan kapan krisis ekonomi global ini akan berakhir. Menurut Denni Purbasari, anggota Tim Asistensi Menko Perekonomian ” Puncak krisis ekonomi global baru akan terasa pada tahun 2009 ini yang akan ditandai dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. OECD dalam laporannya pada tanggal 25 November 2008 memproyeksikan bahwa pada tahun 2009 dapat dikatakan bahwa perekonomian dunia akan mencapai titik terendah. Sementara itu Menko Perekonomian sekaligus menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa, dampak krisis keuangan global terhadap perekonomian Indonesia akan terus berlanjut hingga dua belas bulan kedepan atau satu tahun mendatang. Untuk itu berbagai langkah-langkah antisipatif perlu dilakukan :
KESIMPULAN Dari hasil penelitian dan pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan:
DAFTAR PUSTAKA BPS. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.2008 Mudrajad Kuncoro. 2008. Tujuh Tantangan UKM di Tengah Krisis Global. http://jamrud.com/2008/10/ http:// sawali.info/2008/10/11/Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan http://jusman.wordpress.com/2008/12/15/Krisis Ekonomi Global dan Solusinya http://www.yauhui.net/10 Jurus Sby Menghadapi Krisis Global Keuangan Dunia http://202.67.10.226/berita. Indonesia Harus Terus Waspada Hadapi Krisis Global |
Artikel kepemimpinan
Hubungan Kepemimpinan dan Kekuasaan |
Hubungan pemimpin dan kekuasaan adalah ibarat gula dengan manisnya, ibarat garam dengan asinnya. Dua-duanya tak terpisahkan. Kepemimpinan yang efektif (effective leadership) terealisasi pada saat seorang pemimpin dengan kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Ketika kekuasaan ternyata bisa timbul tidak hanya dari satu sumber, kepemimpinan yang efektif bisa dianalogikan sebagai movement untuk memanfaatkan genesis (asal usul) kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat. Refleksi dari kepemimpinan yang efektif, bertanggungjawab, dan terbalutnya hubungan sinergis antara pemimpin dengan yang dipimpin, adalah makna filosofis dari nasehat Rasulullah SAW: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap pimpinannya, seorang Amir (kepala negara) adalah pemimpin dan ia bertanggungjawab terhadap rakyatnya ….” (HR Bukhari & Muslim) Genesis kekuasaan, atau dalam terminologi lain: “jenis-jenis kekuasaan (types of power)” (Robbins-1991), atau “basis-basis kekuasaan sosial (the bases of social power)” (French-1960), pada hakekatnya teridentifikasi dari lima hal: legitimate power, coercive power, reward power, expert power, dan referent power. Legitimate Power (kekuasaan sah), yakni kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin sebagai hasil dari posisinya dalam suatu organisasi atau lembaga. Kekuasaan yang memberi otoritas atau wewenang (authority) kepada seorang pemimpin untuk memberi perintah, yang harus didengar dan dipatuhi oleh anak buahnya. Bisa berupa kekuasaan seorang jenderal terhadap para prajuritnya, seorang kepala sekolah terhadap guru-guru yang dipimpinnya, ataupun seorang pemimpin perusahaan terhadap karyawannya. Coercive Power (kekuasaan paksa), yakni kekuasaan yang didasari karena kemampuan seorang pemimpin untuk memberi hukuman dan melakukan pengendalian. Yang dipimpin juga menyadari bahwa apabila dia tidak mematuhinya, akan ada efek negatif yang bisa timbul. Pemimpin yang bijak adalah yang bisa menggunakan kekuasaan ini dalam konotasi pendidikan dan arahan yang positif kepada anak buah. Bukan hanya karena rasa senang-tidak senang, ataupun faktor-faktor subyektif lainnya. Reward Power (kekuasaan penghargaan), adalah kekuasaan untuk memberi keuntungan positif atau penghargaan kepada yang dipimpin. Tentu hal ini bisa terlaksana dalam konteks bahwa sang pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahannya. Penghargaan bisa berupa pemberian hak otonomi atas suatu wilayah yang berprestasi, promosi jabatan, uang, pekerjaan yang lebih menantang, dsb. Expert Power (kekuasaan kepakaran), yakni kekuasaan yang berdasarkan karena kepakaran dan kemampuan seseorang dalam suatu bidang tertentu, sehingga menyebabkan sang bawahan patuh karena percaya bahwa pemimpin mempunyai pengalaman, pengetahuan dan kemahiran konseptual dan teknikal. Kekuasaan ini akan terus berjalan dalam kerangka sang pengikut memerlukan kepakarannya, dan akan hilang apabila sudah tidak memerlukannya. Kekuasaan kepakaran bisa terus eksis apabila ditunjang oleh referent power atau legitimate power. Referent Power (kekuasaan rujukan) adalah kekuasaan yang timbul karena karisma, karakteristik individu, keteladanan atau kepribadian yang menarik. Logika sederhana dari jenis kekuasaan ini adalah, apabila saya mengagumi dan memuja anda, maka anda dapat berkuasa atas saya. Seorang pemimpin yang memiliki jiwa leadership adalah pemimpin yang dengan terampil mampu melakukan kombinasi dan improvisasi dalam menggunakan genesis kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Inilah yang disebut penulis dalam kalimat sebelumnya sebagai kepemimpinan yang efektif (effective leadership), dimana implementasinya adalah dengan “memanfaatkan genesis kekuasaan, dan menerapkannya pada tempat yang tepat”. Dan marilah kita saksikan bagaimana khalifah Abu Bakar Asshidiq, menggunakan legitimate power yang dimilikinya untuk memerintahkan Usamah bin Zaid meneruskan rencana memimpin pengiriman tentara ke Syria, di sisi lain menggunakan referent power untuk meminta ijin Usamah bin Zaid agar meninggalkan Umar Bin Khattab di Madinah. Dan dalam keadaan yang berbeda, beliau memakai expert power ketika menolak permintaan Fathimah (putri Rasulullah) dengan landasan hukum fiqih dan hadits shahih, berkenaan dengan masalah harta warisan setelah Rasulullah SAW wafat. Adalah Umar bin Abdul Aziz yang telah berhasil menggunakan coercive powernya ketika menjabat sebagai gubernur wilayah Hejaz, untuk tidak memperbolehkan Hajjaj bin Yusuf Atssaqafi (penguasa Iraq yang dhalim) melewati kota Madinah. Meskipun secara kedudukan Hajjaj memiliki tempat istimewa di hati penguasa Daulat Bani Umaiyah. Dan dengan kekuatan referent power dan reward power yang dimilikinya, Umar bin Abdul Aziz telah berhasil menyatukan kelompok-kelompok Qeisiyah, Yamaniah, Khawarij, Syiah, Mutazilah, yang secara terus menerus bertikai pada masa itu. Juga berhasil mengumpulkan ulama-ulama yang shaleh dan terkemuka yang sebelumnya telah mengasingkan diri, menjauhkan diri dari kekuasaan karena kerusakan moral kekhalifahan Bani Umayah sebelumnya. Para ulama justru mendatangi Umar bin Abdul Aziz, duduk bersama untuk memecahkan masalah umat. Merindukan pemimpin republik yang tidak hanya pandai menggunakan coercive power dan legitimate power dalam memimpin republik. Tapi juga dengan bijak dan cerdik menggunakan expert power, referent power, ataupun reward power dalam mempersatukan seluruh anak negeri, dan mengangkat republik dari keterpurukan. |
Langganan:
Postingan (Atom)
